PALANGKA RAYA - Kepala adat suku Dayak bersama dengan anggota masyarakat, beberapa waktu lalu, berkumpul dengan tim Kalimantan Forests and Climate Partnership (KFCP) untuk mengikuti upacara manyanggar, di Desa Katunjung, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas sebuah. Ritual tradisional Dayak tersebut ditradisikan oleh masyarakat setempat untuk meminta izin dan berkah dari roh leluhur terhadap kegiatan program, termasuk merehabilitasi lahan gambut yang telah rusak.
Berlatar belakang kabut asap dari api yang pernah membakar Provinsi Kalteng, acara ini merupakan langkah penting dalam membasahi kembali lahan rawa gambut di daerah ini, dengan memblokir kanal yang membelah dan mengeringkanwilayah ini serta mengurangi emisi karbon. Hal ini sekaligus menandai adanya dukungan dan partisipasi masyarakat,yang menjadi bagian penting dalam implementasi REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation/pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan).
“Kami menghargai dan mendukung KFCP karena proyek ini menghargai tradisi adat kami dan ini penting bagi masyarakat untuk dapat berpartisipasi serta merasa nyaman dengan kegiatan proyek di desa-desa mereka” ungkap Musie I Djamain, Damang (kepala adat) dari Kecamatan Mentangai, Kabupaten Kapuas, seperti ditulis KFCP dalam pers rilisnya kepadaTabengan, Kamis (15/11).
REDD+ merupakan pengurangan emisi karbon, tetapi harus menyertakan dan melindungi hak-hak masyarakat yang tinggal di area tersebut. “Masyarakat di KFCP merupakan pusat menuju proses, mereka menyediakan banyak layanan untuk kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam mengurangi emisi termasuk memblokir kanal dan reboisasi yang bertujuan untuk memulihkan ekosistem yang rusak," kata Juwita, Koordinator TP, (Tim Pengawas Desa) di Desa Katunjung.
Dari sekitar 10.000 orang yang tinggal di wilayah proyek, mayoritasnya mencari nafkah dari tanaman hutan, karet dan tanaman tahunan seperti padi dan singkong. Dikarenakan mata pencaharian masyarakat setempat secara langsung bergantung pada lingkungan, mereka juga harus menjadi inti dari solusi untuk kerusakan lingkungan di wilayah ini.
Andrianson, Kepala Desa Katungjung, mengungkapkan bahwa mereka begitu bangga dengan KFCP, terutama di Katunjung dan yakin bahwa proyek ini bermanfaat dan penting. “Ini merupakan momen yang sangat penting untuk Katunjung karena masyarakat telah lama berharap untuk merehabilitasi lingkungan di sekitar daerah ini," katanya.
"Pemulihan ini sangat penting di Blok A dari Ex Mega Rice Project dan KFCP membantu kita dalam mencapai hal ini dan membuat tanah terus bertahan. Misalnya, melalui produksi persemaian bibit dan menanam kembali lahan gambut telah rusak," katanya.
Masyarakat juga merupakan bagian penting dalam proses pengambilan keputusan untuk kegiatan seperti pemblokiran kanal. Institusi lokal telah dibentuk dengan melibatkan kepala desa dan tokoh adat sehingga masyarakat dapat mengambil bagian dalam pemerintahan proyek dan mendapatkan keuntungan dari REDD+, baik secara finansial maupun sosial.
Perjanjian Desa, yang mengatur kerangka hukum untuk desa-desa di KFCP tidak hanya penting untuk menghormati hak-hak masyarakat lokal dan membangun kapasitas pemerintahan mereka sendiri, ini juga memungkinkan pengetahuan lokal dan tradisional dari masyarakat digabungkan ke dalam restorasi hutan.
Ibu Jali, anggota masyarakat Katungjung mendukung norma partisipasi gender sebagai seorang wanita dengan mengambil peran aktif dalam proses pemblokiran kanal. "Saya ingin berkontribusi untuk peningkatan komunitas kami dan KFCP memberikan saya kesempatan ini," katanya. "Kebakaran di sekitar sini membakar ladang dan hutan. Asapnya begitu buruk bagi kesehatan keluarga saya," tambahnya.
"Jika kita bisa membuat gambut ini basah kembali dengan memblokir kanal, ini akan menguntungkan setiap orang dan lingkungan di sini. Ini akan menguntungkan kehidupan perekonomian saya karena kebun karet keluarga saya akan terlindung dari api. Hanya karena aku seorang wanita bukan berarti aku tidak dapat menjadi bagian dari proses ini. Dan saya tahu bahwa ini dapat bermanfaat bagi wanita lain dalam masyarakat dan saya juga mendorong mereka untukberpartisipasi dalam memblokir kanal," katanya.
Kebakaran hutan dan gambut merupakan kontributor terbesar emisi gas rumah kaca di Indonesia. Penelitianmenunjukkan, selama musim kemarau parah seperti yang sedang diderita saat ini, kebakaran berkontribusi sebanyak 40 persen dari emisi tahunan setiap negara.
KFCP mencoba berbagai cara untuk mengimplementasi REDD+. Semua yang ada di dalam REDD+ adalah baru, membuat KFCP sebagai program pembelajaran karena ini merupakan inisiatif pengembangan dan lingkungan. Setelah metode dan mekanisme yang tepat dibentuk dalam REDD+, kunci untuk mengurangi emisi adalah masyarakat yang akan menjaga dan melindungi aset alam serta karbon yang tersimpan di dalamnya.
Untuk menyukseskan hal ini, inisiatif perlu terus dimasukkan dalam dinamika adat dan sosial dari desa dan budaya. Di Katunjung, pemuka adat setempat, menutup upacara manyanggar dengan memanggil roh-roh melalui penawaran yang dilakukan selama beberapa hari dan ditegaskan kembali bersama dengan masyarakat dari tujuh desa, bahwa kegiatan KFCP memiliki berkat penuh melalui tradisi budaya masyarakat Dayak.
Tentang KFCP
KFCP merupakan salah satu kegiatan demonstrasi REDD+ berskala besar dan paling maju di Indonesia. Melalui Kemitraannya, Indonesia dan Australia bermaksud untuk menginformasikan perundingan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai REDD+ dengan menunjukkan bagaimana REDD+ dapat diterapkan. Kegiatan demonstrasi ini sedang dilaksanakan di daerah yang masih berhutan dan lahan gambut tropis yang telah rusak, meliputi seluas 120.000 hektar di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.
KFCP ini bertujuan untuk mengembangkan metode untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan menunjukkan pendekatan yang adil dan efektif untuk REDD + dengan menemukan:
• Cara untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan
• Cara untuk mengukur dan memperkirakan emisi karbon hutan yang terkait dengan sistem nasional Indonesia
• Pembayaran berbasis insentif untuk masyarakat yang bergantung dengan hutan di Kalimantan Tengah
• Pengaturan kelembagaan dan penguasaan untuk kegiatan REDD +.(anr)
Sumber : http://media.hariantabengan.com/index/detailpalangkarayaberitatext/id/31087Kepala%20Adat%20Suku%20Dayak%20dan%20Masyarakat%20Mengesahkan%20KFCP%20Melalui%20Festival%20Tradisional

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapuskami JUAL excavator kebun sawit, jual excavator swamp / rawa-rawa untuk kebun sawit lahan gambut, jual excavator amphibi dengan pontoon undercarriage yang berguna untuk menjadikan excavator biasa menjadi excavator amphibi atau swamp excavator atau excavator rawa-rawa, floating excavator. Swamp backhoe cocok untuk pengerukan kebun sawit lahan gambut, empang, tambak, danau, sungai, pantai.
BalasHapusSwamp backhoe atau Excavator amphibi merupakan excavator terapung di air maupun lumpur atau lahan gambut serta rawa-rawa.
Silahkan hubungi :
Email : info@swampbackhoe.com
HP: 081241346651 atau 081241888131 atau 085255816221
PIN BB : 275EA90D