Kamis, 07 November 2013

Standfort University kunjungi Aman Kalteng

Sebanyak 6 orang mengunjungi kantor AMAN Kalteng yang terletak di jalan Taurus I, Palangka Raya pada (6/11). Ke-5 orang tersebut adalah dari mahasiswa dan dosen dari Standford University. Nizar Badib dari NABCO membantu mereka sebagai penterjemah ketika berdiskusi dengan staf AMAN Kalteng.

Tujuan kedatangan mereka adalah ingin melakukan diskusi terkait dampak negatif dari pembukaan kelapa sawit di Kalteng. Dijelaskan oleh Onasis bahwa saat kedatangan mereka, ketua BPH Wilayah AMAN Kalteng, Simpun Sampurna sedang berada di luar kota.

Abdul Rahman bersama Onasis menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Anna Sanders sebagai dosen. Dalam buku tamu yang ditulis oleh Anna ia menulis dari lembaga CIFOR.  Ia lebih banyak menanyakan kasus-kasus yang terjadi di Kalteng terkait pembukaan Perkebunan Besar Sawit (PBS).

Abdul Rahman menjelaskan bahwa AMAN Kalteng saat ini fokus untuk melakukan pemetaan partisipatif sebagai upaya menguatkan masyarakat adat. “Tantangan yang kami hadapi adalah meyakinkan masyarakat adat yang belum tahu dan terbiasa menggunakan alat GPS, meteran dan kompas,” terangnya.

Ia melanjutkan, kekurangan tersebut di atasi dengan memberikan pelatihan dan menjelaskannya sehingga menjadi alat menjaga wilayah adat ketika peta sudah jadi,” ungkap Abdul. Kondisi lain Abdul menegaskan pentingnya memetakan wilayah adat sebelum orang lain yang memetakan. Ini diungkapkan karena ini menjadi bukti bahwa masyarakat adat itu ada dan tetap eksis.

Pertemuan berlangsung sekitar 1 jam dari pukul 9-10 pagi. Selanjutnya rombongan yang terdiri dari Claret Vargas dari Standford Human Rights Center, Alexandra Welch dari Standford Human Rights Clinic dan Michael Frenkel dari Standford University melanjutkan perjalanan ke lembaga lain yang terkait, sekaligus melakukan kunjungan lapangan.

Sumber foto: http://www.law.stanford.edu/sites/default/files/entity/377765/image/slspublic/PC_StanHuRgtsCtr_3C_RGB.png

AMAN KALTENG

Author & Editor

Berdaulat Mandiri Bermartabat - Exsist & Resist & Indigenize & Decolonize

0 Komentar:

Posting Komentar