Ketika teknologi canggih tidak bisa berfungsi sempurna, sentuhan manusia tetap menjadi cara efektif untuk melengkapi kinerja teknologi tersebut. Dalam konteks pelaksanaan proyek REDD+, deforestasi dan degradasi hutan menimbulkan dampak luas bagi kehidupan manusia. Ternyata pencitraan jarak jauh dan data satelit kadang belum sanggup memaparkan aspek sosial, ekonomi, budaya, dan perubahan nyata di lapangan. Untuk memantau dampak dan kondisi nyata aspek-aspek tersebut di lapangan, tidak ada cara lain kecuali tenaga manusia yang harus melakukannya.
Satgas Persiapan Kelembagaan REDD+ mengadakan seminar di Jakarta pada 6 September 2012 yang mengundang tokoh-tokoh adat dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) seluruh Indonesia. Seminar ini akan membahas model pemantauan proyek REDD+ oleh masyarakat adat dan masyarakat sekitar hutan dengan keterampilan jurnalistik. Seminar ini akan membahas mengenai media arus utama, jurnalisme warga (citizen journalism), media, dan cara pelaporan, termasuk dasar-dasar pengetahuan bagi komunitas adat dan warga sekitar hutan untuk bisa melaporkan kabar yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Dalam sambutan pembukaan, Chandra Kirana, Ketua Tim Kerja Komunikasi dan Pelibatan Para Pihak Satgas Persiapan Kelembagaan REDD+, mengatakan, “Ketika nanti menuliskan berita berbasis masyarakat adat, jangan memosisikan diri sebagai korban. Posisikan diri Anda sebagai sumber pengetahuan yang tidak dimiliki orang lain.” Ia menghimbau agar ada komunikasi yang baik untuk menyalurkan harapan masyarakat adat.
Seminar nasional bertajuk “Mengenalkan Jurnalisme Warga kepada Masyarakat Adat Nusantara” tersebut dihadiri sekitar 60 peserta. Sebagian besar adalah para pengurus AMAN wilayah dan tokoh adat. Acara tersebut dipandu oleh Harry Surjadi dari ICFJ (International Center for Journalists). Seminar ini bertujuan menjelaskan model pemantauan proyek REDD+ dan indikator sosial, ekonomi, budaya terkait dengan hutan dan masyarakat adat atau masyarakat sekitar hutan. Seminar ini akan memberikan pengetahuan dan ketrampilan jurnalistik, pemahaman model komunikasi, dan penggunaan piranti komunitas.
“Citizen journalism merupakan jurnalisme partisipatif oleh warga biasa yang terpinggirkan oleh media arus utama,” kata Harry. Jurnalisme warga ini di mata Harry adalah sebagai sarana untuk meningkatkan aspek demokrasi kerakyatan. Masyarakat dimungkinkan mengakses kekuasaan melalui informasi dari arus bawah, sehingga pejabat publik akan lebih transparan dan bertanggung jawab. Jadi jurnalisme warga juga menjadi alat untuk membangun kepercayaan sekaligus sebagai media sosial yang berangkat dari partisipasi masyarakat lapisan bawah.
Adrianus Adam Tekot, salah satu peserta yang sudah mendapat pelatihan jurnalisme warga dari Kalimantan Barat, memberikan kesaksian dalam seminar tersebut. “Moto perjuangan kami adalah memperjuangkan masyarakat secara demokratis dan berwawasan lingkungan. Kami tidak membuat berita yang tidak berhubungan dengan lingkungan,” katanya.
Adrianus yang mengklaim dirinya sebagai wartawan kampung mengaku pernah dilatih oleh Harry di Ruai TV, Kalimantan Barat. “Kami diperkenalkan dengan ilmu dasar wartawan 5W1H dan bagaimana melakukan observasi. Dengan HP (telepon genggam-Edt.) meskipun murah bisa sebagai sarana menyampaikan informasi bagi rekan-rekan kita,” kata Adrianus yang mengaku telah berhadapan dengan perkebunan sawit sejak 1958. Sejak awal pula Adrianus mengetahui ada sengketa dengan perusahaan mengenai tanah adat.
Jurnalisme warga memang penting, karena data yang masuk ke ranah publik kemudian menjadi media dua arah, baik bagi pemerintah maupun masyarakat. “Itu memang perlu memenuhi standar mutu informasi tertentu, dan disitulah pentingnya jurnalisme warga,” kata Chandra. Ia berharap kerjasama antara Satgas Persiapan Kelembagaan REDD+ dan AMAN memberi manfaat sekaligus menyejahterakan masyarakat adat agar terbangun ekonomi yang kuat.
Sumber : http://www.satgasreddplus.org/
Sumber : http://www.satgasreddplus.org/

0 Komentar:
Posting Komentar