Bertempat di Soverdi, jalan Tjilik Riwut Palangka Raya, Workshop Dayak Voice’s dilaksanakan. Kegiatan yang di inisiasi oleh Justice & Peace, Integrity Of Creation (JPIC ) Kalimantan, JPIC MSC Indonesia, Forum Keadilan dan Perdamaian Papua-Kalimantan juga Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau, Konferensi Waligereja Indonesia.
Selama 5 dari tanggal (12-16/8), sebanyak 15 orang terlibat aktif dalam workshop ini. Bertempat di aula yang juga sekaligus dijadikan ruang makan, peserta yang ikut dalam pelatihan ini berasal dari Wahana Lingkungan Hidup Kalimantan Tengah (WALHI Kalteng), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Wilayah Kallimantan Tengah (AMAN Wil Kalteng), Save Our Borneo (SOB), JPIC, Yayasan Betang Borneo (YBB), Lembaga Dayak Panarung (LDP), Lembaga Kebudayaan Dayak (LKD) dan Mahasiswa.
Iwan Setiawan, utusan dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Wilayah Kalteng mengatakan pelatihan ini menarik karena ada praktek yang langsung dilakukan usai mendapatkan materi dari fasiltator. Sejak pukul 09.00-17.30 WIB setiap hari peserta di berikan materi visual literacy, storrytteling, teknik dasar juru kamera, video advokasi dan pelaporan di daerah konflik di Palangka Raya serta editing video.
Di hari pertama (12/8) di dahului Focus Group Discussion (FGD) untuk mendapatkan pemahaman bersama siapa sesungguhnya manusia Dayak itu. Hasil FGD menyimpulkan bahwa Dayak dibagi menjadi 2 yaitu secara genetik dan secara rasa keberpihakan dari insan manusia itu sendiri.
Sebagai fasilitator workshop, Wensislaus Fatubun dari komunitas JPIC MSC Indonesia & Engage Media. Fasilitator yang sudah melakukan kerja-kerja pendampingan di komunitas Papua sejak tahun 2011 mengatakan, ada kesamaan antara orang Dayak dan orang Papua. Cerita yang sama adalah narasi yang cenderung diciptakan dari luar, artinya ada regulasi-regulasi kekuasaan yang membungkam narasi-narasi orang Papua maupun orang Kalimantan, sehingga didorong untuk bernarasi menurut kacamata kekuasaan, baik itu perusahaan, pemerintah atau kalau di Papua ada militer, kalau di Kalimantan narasi diciptakan oleh kaum-kaum pemodal.
“Pembelajarannya adalah adalah rakyat mulai mengorganisir diri secara bersama dan ketika rakyat sudah mengorganisir dirinya sendiri dan mulai sadar bahwa mereka punya cerita yang bukan hanya di kriminalkan versi penguasa, tapi punya cerita harian yang membuat mereka bangga punya jati diri, identitas, tradisi budaya sehingga dalam proses ini sebenarnya mendorong self identifikasi, tapi juga belajar juga untuk memiliki daya pulih untuk melakukan gerakan-gerakan pembebasan. Saya percaya orang Dayak punya untuk mendorong itu,” jelas pria yang berdarah Maluku Tenggara dan Papua.
Sebagai penyelenggara sekaligus pemimpin lembaga JPIC Kalimantan, romo Frans mengatakan tujuan dari kegiatan adalah membangun konsep yang tepat tentang Dayak dan mencoba membongkar persepsi orang tentang Dayak. “Kita lihat kerap kali orang berpendapat tetang Dayak, ahli-ahli dari manapun, bahkan orang Dayak pun berpendapat tentang Dayak tetapi itu berdasarkan paradigma yang dibangun oleh orang lain lalu ia mencoba paradigma itu sendiri untuk melihat dirinya, kita mencoba mengidentfikasi kegiatan itu. Konsep dan perspektif itu yang kemudian akan didapatkan dan berdasarkan itulah kita mencoba membangun bagaimana Dayak bercerita tentang dirinya dirinya sendiri,” jelas romo yang bernama lengkap Fransiscus Sanie De Lake, SVD.
Salah seorang peserta yang sempat di bincangi penulis, Nopi yang berasa dari kampung Telok, Katingan berharap usai pelatihan ini dapat membuat film pendek. Nopi mengatakan, ia bisa membuat film sendiri di komunitas Dayak, film pendek tentang pengrusakan hutan. “Kebetulan ada di daerah Katingan tepatnya di belakang desa Telok, ada penggarapan lahan karena ada seorang bapak yang berani membela masyarakat sehingga kegiatan tidak jadi, pembukaan lahan,” harap Nopi.
Kita berhadap ke depan pembuatan film-film berdurasi pendek membawa perubahan di tingkat masyarakat adat Dayak. Jadi bukan hanya di tonton, tapi di ikuti dengan diskusi kritis di tingkat kampung dan adanya aksi untuk menjaga petak danum. Sesuai dengan lagu ‘ela laya yo ela laya mamangun mahaga lewu, sanang mangat eka kahimat, bahu himba halajur ihaga’.
Keterangan foto atas: Iwan, berbaju kaos biru; foto bawah: Wempi, fasilitator memandu hasil praktek pembuatan film pendek (bawah)
Sumber tulisan dan foto: Rokhmond Onasis.
Sabtu, 31 Agustus 2013
AMAN Kalteng Ikuti Workshop Dayak Voice
AMAN KALTENG
Author & Editor
Berdaulat Mandiri Bermartabat - Exsist & Resist & Indigenize & Decolonize
8:30 PM
Berita Lainnya, Berita Masyarakat Adat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Komentar:
Posting Komentar