PALANGKA RAYA
– Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalteng dan AMAN Kalbar
menggandeng Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Netherlands Centre for
Indigenous Peoples (NCIV). Mereka akan mengadakan workshop terkait soal
perkebunan sawit.
Ketua DPW AMAN Kalteng Simpun Sampurna,
Senin (5/11), mengatakan, kegiatan workshop dalam bentuk pelatihan itu
akan diberikan kepada masyarakat adat, dalam rangka penerapan kriteria
sosial produksi sawit berkelanjutan bagi masyarakat adat di Kalteng dan
Kalbar. Workshop itu akan diselenggarakan, 5-8 November 2012 di Aula
Hotel Batu Internasional, Palangka Raya.
“Tujuannya, membahas
berbagai isu tentang sawit agar keberadaan perusahaan dapat memberikan
nilai ekonomis bagi masyakarat adat di Kalteng dan Kalbar. Khususnya
perusahaan sawit yang di dalamnya ada peran serta pihak Belanda,” kata
Simpun.
Simpun menjelaskan, workshop tersebut
membahas berbagai upaya dan mencari solusi terkait persoalan sawit.
Selama ini, ia menilai keberadaan perusahaan sawit di Kalteng belum
memberikan manfaat signifikan bagi masyarakat adat. Bahkan, cara
penyelesaian persoalan masih dilakukan dengan cara adu fisik atau
kekerasan.
Untuk itu, ia mengharapkan melalui
pelatihan yang diselenggarakan dengan kerja sama LSM Belanda ini, mampu
memberikan jalan keluar bagi masyarakat maupun pihak perusahaan. Dengan
demikian, keberadaan perkebunan sawit memberikan manfaat bagi masyarakat
adat, bukan sebaliknya malah membawa bencana bagi masyarakat.
“Di sini kita bisa bersama-sama mencari
solusi bagaimana perusahaan sawit dapat memberikan kontribusi secara
berkelanjutan bagi masyarakat. Perusahaan pun dapat mengungkapkan
persoalan yang dihadapi dalam forum ini,” jelas Simpun.
Namun demikian ia menyayangkan, hingga
kini pihak perusahaan terkesan enggan datang memenuhi undangan AMAN.
Padahal, dalam forum tersebut, bukan mencari kesalahan perusahaan maupun
masyarakat adat, tetapi terpenting adalah mendengar akar permasalahan
sehingga dapat menemukan solusi bersama.
Sekarang ini, lanjut Simpun, perusahaan
perkebunan sawit belum banyak menyentuh langsung ke hak-hak dasar
masyarakat adat. Masih banyak perusahaan yang belum memberikan nilai
tambah untuk kesejahteraan masyarakat setempat.
Karena itu ia mengharapkan, workshop ini
akan menghasilkan solusi yang terbaik. Sehingga keberadaan PBS sawit
mampu memberikan nilai tambah ekonomis bagi masyarakat adat.
Perwakilan AMAN Kalbar Glorio Sanen
menambahkan, persoalan perkebunan sawit di Kalbar tidak jauh beda
seperti yang dialami Kalteng. Terutama dilihat dari sektor ekonomi dan
sosial.
“Dilihat dari sektor ekonomi, masyarakat
kita masih ada ketergantungan terhadap perusahaan sawit. Misalnya,
kebun-kebun karet masyarakat digusur untuk dijadikan lahan sawit.
Sementara masih banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari
kebun dan hutan,” ujar Glorio.
Kemudian dilihat dari sektor sosial, lebih
memprihatinkan lagi. Tindakan kriminalisasi dilakukan perusahaan
terhadap masyarakat. Masyarakat diadu domba antarsesama warga, bahkan
ada yang dalam satu keluarga berseteru.
Tidak hanya itu, pada bidang pendidikan,
anak-anak masyarakat setempat cenderung mengabaikan pendidikan karena
berpandangan yang salah bahwa pendidikan tidak penting. Kondisi ini
menyebabkan banyak anak tidak mau sekolah, langsung bekerja sehingga
sumber daya manusia terabaikan.Sumber : http://media.hariantabengan.com/index/detailspiritkaltengberitatext/id/30870

0 Komentar:
Posting Komentar