Kamis, 22 November 2012

Cari Solusi Sawit, AMAN Gandeng LSM Belanda

PALANGKA RAYA – Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalteng dan AMAN Kalbar menggandeng Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Netherlands Centre for Indigenous Peoples (NCIV). Mereka akan mengadakan workshop terkait soal perkebunan sawit.
Ketua DPW AMAN Kalteng Simpun Sampurna, Senin (5/11), mengatakan, kegiatan workshop dalam bentuk pelatihan itu akan diberikan kepada masyarakat adat, dalam rangka penerapan kriteria sosial produksi sawit berkelanjutan bagi masyarakat adat di Kalteng dan Kalbar. Workshop itu akan diselenggarakan, 5-8 November 2012 di Aula Hotel Batu Internasional, Palangka Raya.
 “Tujuannya, membahas berbagai isu tentang sawit agar keberadaan perusahaan dapat memberikan nilai ekonomis bagi masyakarat adat di Kalteng dan Kalbar. Khususnya perusahaan sawit yang di dalamnya ada peran serta pihak Belanda,” kata Simpun.
Simpun menjelaskan, workshop tersebut membahas berbagai upaya dan mencari solusi terkait persoalan sawit. Selama ini, ia menilai keberadaan perusahaan sawit di Kalteng belum memberikan manfaat signifikan bagi masyarakat adat. Bahkan, cara penyelesaian persoalan masih dilakukan dengan cara adu fisik atau kekerasan.
Untuk itu, ia mengharapkan melalui pelatihan yang diselenggarakan dengan kerja sama LSM Belanda ini, mampu memberikan jalan keluar bagi masyarakat maupun pihak perusahaan. Dengan demikian, keberadaan perkebunan sawit memberikan manfaat bagi masyarakat adat, bukan sebaliknya malah membawa bencana bagi masyarakat.
“Di sini kita bisa bersama-sama mencari solusi bagaimana perusahaan sawit dapat memberikan kontribusi secara berkelanjutan bagi masyarakat. Perusahaan pun dapat mengungkapkan persoalan yang dihadapi dalam forum ini,” jelas Simpun.
Namun demikian ia menyayangkan, hingga kini pihak perusahaan terkesan enggan datang memenuhi undangan AMAN. Padahal, dalam forum tersebut, bukan mencari kesalahan perusahaan maupun masyarakat adat, tetapi terpenting adalah mendengar akar permasalahan sehingga dapat menemukan solusi bersama.
Sekarang ini, lanjut Simpun, perusahaan perkebunan sawit belum banyak menyentuh langsung ke hak-hak dasar masyarakat adat. Masih banyak perusahaan yang belum memberikan nilai tambah untuk kesejahteraan masyarakat setempat.
Karena itu ia mengharapkan, workshop ini akan menghasilkan solusi yang terbaik. Sehingga keberadaan PBS sawit mampu memberikan nilai tambah ekonomis bagi masyarakat adat.
Perwakilan AMAN Kalbar Glorio Sanen menambahkan, persoalan perkebunan sawit di Kalbar tidak jauh beda seperti yang dialami Kalteng. Terutama dilihat dari sektor ekonomi dan sosial.
“Dilihat dari sektor ekonomi, masyarakat kita masih ada ketergantungan terhadap perusahaan sawit. Misalnya, kebun-kebun karet masyarakat digusur untuk dijadikan lahan sawit. Sementara masih banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari kebun dan hutan,” ujar Glorio.
Kemudian dilihat dari sektor sosial, lebih memprihatinkan lagi. Tindakan kriminalisasi dilakukan perusahaan terhadap masyarakat. Masyarakat diadu domba antarsesama warga, bahkan ada yang dalam satu keluarga berseteru.
Tidak hanya itu, pada bidang pendidikan, anak-anak masyarakat setempat cenderung mengabaikan pendidikan karena berpandangan yang salah bahwa pendidikan tidak penting. Kondisi ini menyebabkan banyak anak tidak mau sekolah, langsung bekerja sehingga sumber daya manusia terabaikan.


Sumber : http://media.hariantabengan.com/index/detailspiritkaltengberitatext/id/30870

AMAN KALTENG

Author & Editor

Berdaulat Mandiri Bermartabat - Exsist & Resist & Indigenize & Decolonize

0 Komentar:

Posting Komentar