Ada satu hal yang paling menonjol dari perhelatan Kongres Masyarakat Adat Nusantara IV (KMAN IV) di Tobelo, Halmahera Utara, pada 19-25 April 2012. Tampak jelas bahwa kesadaran masyarakat adat atas perubahan iklim sudah sedemikian kental. Bahkan, boleh dibilang jauh di atas kesadaran kelompok-kelompok masyarakat lain di negeri ini.
Kesadaran itu muncul tatkala mereka sudah merasakan dampaknya. Berbagai diskusi yang digelar, bahkan celetukan di kala rehat, kerap menunjukkan hal itu. Mereka bercerita bahwa hasil pertanian telah menurun akibat kemarau yang panjang, air yang makin sulit diperoleh, serta penanggalan tradisional yang tak lagi mangkus dipergunakan. Bahkan, seorang tokoh dari Pulau Timor bertutur bahwa di kampungnya tak lagi ada panen sejak tiga tahun lalu!
sadaran itu muncul tatkala mereka sudah merasakan dampaknya. Berbagai diskusi yang digelar, bahkan celetukan di kala rehat, kerap menunjukkan hal itu. Mereka bercerita bahwa hasil pertanian telah menurun akibat kemarau yang panjang, air yang makin sulit diperoleh, serta penanggalan tradisional yang tak lagi mangkus dipergunakan. Bahkan, seorang tokoh dari Pulau Timor bertutur bahwa di kampungnya tak lagi ada panen sejak tiga tahun lalu!
Sementara, kebanyakan orang-orang berpunya di kota belum tentu tak bisa mengetahuinya. Jarak mereka terlampau jauh dari iklim. Mereka tetap makan dengan kenyang, asalkan mereka mampu membelinya. Bagi orang kota, makanan tetap datang melalui mekanisme pasar. Air conditioner dipergunakan dengan “rajin” di dalam mobil maupun di dalam gedung. Tak heran kalau mereka tahu sedikit tentang perubahan suhu. Kepanasan sedikit, tinggal pencet tombol penurun suhu, dan rasa gerahpun terusir.
Maka, sudah selayaknya kalau masyarakat adat justru jauh lebih fasih bertutur tentang perubahan iklim. Merekalah yang mengalami, dan mereka pula yang bisa bercerita. Untungnya, mereka tak hanya pandai bercerita. Mereka menganalisa. Mereka merapatkan barisan. Lalu mereka bertindak. Pengalaman menjadi cerita, cerita menjadi analisis, analisis menjadi rencana tindak, Rencana tindak segera kemudian dijadikan program kerja yang bukan sekadar tampak rapi, melainkan bisa dilaksanakan.
Memang tak bisa dimungkiri bahwa di sana-sini masih ditemukan cerita yang rasanya dilebih-lebihkan. Atau, analisis yang tak tepat betul. Namun tetap saja, pemahaman mereka jauh sekali di atas rata-rata warga negeri ini. Apalagi, kalau kita kemudian menilik apa yang diproduksi oleh organisasi yang memayungi mereka, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Brosur berjudul “Skema Penyiapan Masyarakat Adat dalam Mitigasi dan Adaptasi terhadap Perubahan Iklim” menandaskan hal itu. Skemanya jelas dan mudah dipahami, tahapan penyiapannya masuk akal, dan prasyaratnya pun sangat kokoh diargumentasikan.
Bagaimanapun kita memang harus mengakui bahwa kita berhutang banyak kepada masyarakat adat, yang telah berbilang abad menjaga hutan-hutan dan lautan dengan kearifan yang tinggi. Tuntutan untuk hidup dengan tidak serakah telah membuat mereka menjadi penjaga dan pelestari sumberdaya alam. Ketika mereka kehilangan daya untuk mempertahankan wilayah-wilayah adat mereka, maka ceritapun menjadi berbeda. Berbagai bentuk kebijakan dan industri tak ramah lingkungan merajalela.
Akibatnya, sumberdaya yang berabad terjaga pun dikuras habis-habisan. Untungnya kini kesadaran telah hinggap di sebagian orang kota. Pada titik ini, kritik bisa dilontarkan dengan terbuka, dan jalan keluar bisa dibicarakan dengan hati yang lapang.
Di antara jalan keluar itu adalah rehabilitasi dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Lagi-lagi, masyarakat adat tahu persis soal itu karena merekalah para pelopornya. Mereka telah mempraktikkan itu jauh sebelum istilah land rehabilitation atau sustainable forest management didengar oleh khalayak luas di negeri ini. Oleh karena itu, ketika masyarakat adat menegur kesadaran kita semua, seharusnya kita semua mendengarkannya. Mereka hanya meminta pengakuan atas hak dan pengelolaan wilayah mereka, Mereka ingin bisa kembali mengelola tanah-tanah mereka dengan kebijakan yang telah mereka tunjukkan. Kita seharusnya takzim di hadapan kearifan mereka. Kita seharusnya mengakui kebenaran logika dan urgensi permintaan itu, lalu bekerjasama dengan mereka untuk mewujudkannya agar hutan-hutan kembali menghijau, agar suhu kembali terkendali, dan agar kita semua bisa terselamatkan dari ancaman perubahan iklim.

0 Komentar:
Posting Komentar